Kalian seorang sarjana? Merasa tak bisa apa-apa? Tak punya segalanya? Merasa belum bisa bahagia? atau merasa hidup kalian biasa-biasa saja? Kalau iya, lanjutkan membacanya !
.................
Julukan sarjana mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang istimewa, tapi bagi sebagian lagi mungkin malah jadi petaka. Petaka? Apa iya?
Mendapat gelar setelah menamatkan masa pendidikan di bangku kuliah terkadang memang menjadi beban, apalagi untuk mereka yang justru lulus kemudian menjadi pengangguran. Awalnya mungkin akan biasa saja, tapi lama kelamaan rasanya jadi membosankan. Ingin bertemu dengan teman, pasti pertanyaannya "sudah kerja dimana?". Membaur dengan tetangga, takut ditanya "masih di rumah saja?". Acara kumpul keluarga malah dibilang "enak ya masih bisa minta sama orang tua, gausah cape-cape kerja". Dan kita pasti rasanya ingin membungkam mereka semua dengan segala jurus yang dicipta.
Diposisi ini lama kelamaan kita justru malah asik mengasingkan diri dan lupa bersosialisasi. Alasannya supaya tidak menjadi depresi. Maunya selalu mendapat apresiasi, padahal tak punya kreasi. Ya itulah masa-masa paling sulit masa paling melilit, masa paling menjepit.
Tapi taukah ternyata masih banyak hal yang bisa kita lakukan? Kalau kita berfikir setelah lulus kuliah harus "bekerja" di kantoran, bukankah kita bisa "bekerja" membantu orang tua di rumah? Sederhananya, kita bisa membantu membereskan rumah, mengantar ayah dan ibu, atau apapun yang dapat meringankan tugas mereka. Ya hitung-hitung sebagai ladang pahala, sambil menunggu panggilan kerja. Bukankah itu juga mulia? Atau kita bisa memanfaatkan waktu-waktu penting ini untuk membantu orang lain yang membutuhkan, seperti terlibat dalam komunitas sosial dan pendidikan. Bukan hanya mengubur diri dalam kekhawitaran akan masa depan. Saya rasa ini pilihan terbaik menghapus kecemasan terhadap kalimat "sarjana tak bisa apa-apa".
Saya yakin kita semua sebenarnya punya banyak potensi. Asal jangan selalu merasa menjadi "pengungsi". Kita adalah tuan rumah atas diri sendiri dengan segala apresiasi. Jangan menjadi pengemis terhadap sebuah karya, tapi jadikanlah karya itu sebagai titipan sang Pencipta. Kita syukuri, kembangkan diri, dan tak boleh tinggi hati. Manfaatkan waktu ! Jangan selalu menunggu ! Lakukan hal yang membuat kita nyaman dan bahagia. Jangan buat diri kita menderita dengan segala dimensi perkara dunia.
Belum bekerja tak ada salahnya kan? Bukan juga sebuah kutukan? Renungkanlah bahwa ini adalah sebuah perjalanan. Kita bisa berjalan lambat, cepat atau bahkan berlari. Semua sudah pada porsinya masing-masing. Jauhkan rasa iri ! Jangan selalu menghakimi diri sendiri ! Dekatkan diri pada Tuhan ! Keberhasilan pasti akan datang. Bak senja yang pasti bertemu meski diujung petang.
Sarjana bukan gelar "keterpurukan" tapi "kebangkitan". Bangkit melawan ketakutan akan goresan hidup dimasa depan.
Senin, 070518
17.45 WIB dalam ruang menuju gelap
Senin, 07 Mei 2018
Rabu, 18 April 2018
Berdamai dengan Ketakutan
Tak seperti biasanya, angin berhembus sangat kencang, pun udara terasa menusuk tulangku. Pagi ini aku bangun lebih awal dari ibu dan ayah juga saudara-saudaraku. Suasana rumah masih sangat sepi. Aku berusaha untuk kembali melanjutkan mimpi, namun tak bisa. Ada perasaan cemas dan takut yang sedang menghantuiku. Bukan takut karena sesuatu yang menyeramkan, melainkan takut akan kehidupan yang sedang ku jalani saat ini.
Satu jam lebih sudah aku bangun dari tidur. Tiba-tiba aku mendengar suara air dari kamar mandi. Aku bergegas ke luar dan coba mengetuk pintu untuk memastikan siapa yang ada disana. Ternyata itu ayah. Setelah selesai buang air kecil, ayah menghampiriku.
"Kenapa kau sudah bangun? Tak seperti biasanya?" Ayah menatapku dengan mata yang masih mengantuk.
"Ayah aku takut." Aku berbicara dengan terbata-bata.
"Kau mimpi buruk?"
"Tidak."
"Lantas apa?"
"Ada perasaan takut yang menghantuiku." Ayah menarik bangku, kemudian memintaku untuk duduk berdampingan dengannya.
Kami pun memulai percakapan dengan santai dan penuh kehangatan, meski udara masih cukup dingin dan jam baru menunjukkan pukul 02.00.
"Ceritakan pada ayah apa yang kamu rasakan!" Aku pun terdiam sejenak.
"Ayah pernah merasa hidup ini sangat kejam?"
"Maksudmu?"
"Maksudku ayah pernah merasa bahwa apa yang ayah pikirkan bertolak belakang dengan apa yang terjadi?" Ayah seolah mengerti arah pembicaraanku.
"Lalu apa yang ayah lakukan?"
"Diam saja." Kali ini aku tau ayah tidah menjawab dengan serius.
"Ayah aku serius."
"Iya nak." ayah menjawab dengan senyum khasnya. "Kamu tau mengapa di dunia ini ada putih dan hitam? manis dan pahit? diam dan bergerak? lurus dan berbelok?" Ayah melanjutkan pembicaraan, dan seperti biasa ayah menjawab dengan penuh teka-teki.
"Karena dalam hidup ini akan ada sisi yang berbeda." Aku menjawab dengan kata-kata yang selalu ayah ucapkan kepada aku dan saudara-saudaraku.
"Ternyata kamu masih ingat, itulah sebabnya ayah tanamkan ini sejak dahulu. Ayah ingin kamu mengerti bahwa di dunia ini penuh kejutan. Sejuta rencana yang kamu impikan mungkin tak bisa jadi kenyataan. Dan tugasmu hanya perlu hidup dalam kenyataan, penerimaan. Bukan lagi hidup dibalik kata "seandainya", sebab jika begitu kamu akan terus hidup dalam kegelisahan yang kamu buat sendiri. Ingat, sesuatu yang bertolak belakang menurutmu adalah karena kamu mengira bahwa apa yang kamu pilih itu lebih baik. Padahal jika kamu bisa menerima sisi yang lain, kamu tidak akan menganggap itu sebagai sesuatu yang bertolak belakang denganmu. Melainkan kamu akan menerima dan berkata bahwa ini adalah jalan terbaikku yang lain."
"Iya ayah, sekarang aku mengerti. Perasaanku sekarang sudah cukup lega." Aku memeluk ayah hingga air mata menetes tanpa sadar seolah tak ingin ketenangan dan keteduhanku segera beranjak.
Pembicaraan hangat ku dengan ayah telah selesai. Tidak terasa ternyata pembicaraan kami sudah cukup lama. Adzan subuh telah berkumandang. Ibu dan saudara-saudaraku pun telah menunggu untuk sholat berjama'ah. Aku dan ayah segera mengambil wudhu. Kamipun sholat berjama'ah di ruang tengah.
_Fa
Satu jam lebih sudah aku bangun dari tidur. Tiba-tiba aku mendengar suara air dari kamar mandi. Aku bergegas ke luar dan coba mengetuk pintu untuk memastikan siapa yang ada disana. Ternyata itu ayah. Setelah selesai buang air kecil, ayah menghampiriku.
"Kenapa kau sudah bangun? Tak seperti biasanya?" Ayah menatapku dengan mata yang masih mengantuk.
"Ayah aku takut." Aku berbicara dengan terbata-bata.
"Kau mimpi buruk?"
"Tidak."
"Lantas apa?"
"Ada perasaan takut yang menghantuiku." Ayah menarik bangku, kemudian memintaku untuk duduk berdampingan dengannya.
Kami pun memulai percakapan dengan santai dan penuh kehangatan, meski udara masih cukup dingin dan jam baru menunjukkan pukul 02.00.
"Ceritakan pada ayah apa yang kamu rasakan!" Aku pun terdiam sejenak.
"Ayah pernah merasa hidup ini sangat kejam?"
"Maksudmu?"
"Maksudku ayah pernah merasa bahwa apa yang ayah pikirkan bertolak belakang dengan apa yang terjadi?" Ayah seolah mengerti arah pembicaraanku.
"Lalu apa yang ayah lakukan?"
"Diam saja." Kali ini aku tau ayah tidah menjawab dengan serius.
"Ayah aku serius."
"Iya nak." ayah menjawab dengan senyum khasnya. "Kamu tau mengapa di dunia ini ada putih dan hitam? manis dan pahit? diam dan bergerak? lurus dan berbelok?" Ayah melanjutkan pembicaraan, dan seperti biasa ayah menjawab dengan penuh teka-teki.
"Karena dalam hidup ini akan ada sisi yang berbeda." Aku menjawab dengan kata-kata yang selalu ayah ucapkan kepada aku dan saudara-saudaraku.
"Ternyata kamu masih ingat, itulah sebabnya ayah tanamkan ini sejak dahulu. Ayah ingin kamu mengerti bahwa di dunia ini penuh kejutan. Sejuta rencana yang kamu impikan mungkin tak bisa jadi kenyataan. Dan tugasmu hanya perlu hidup dalam kenyataan, penerimaan. Bukan lagi hidup dibalik kata "seandainya", sebab jika begitu kamu akan terus hidup dalam kegelisahan yang kamu buat sendiri. Ingat, sesuatu yang bertolak belakang menurutmu adalah karena kamu mengira bahwa apa yang kamu pilih itu lebih baik. Padahal jika kamu bisa menerima sisi yang lain, kamu tidak akan menganggap itu sebagai sesuatu yang bertolak belakang denganmu. Melainkan kamu akan menerima dan berkata bahwa ini adalah jalan terbaikku yang lain."
"Iya ayah, sekarang aku mengerti. Perasaanku sekarang sudah cukup lega." Aku memeluk ayah hingga air mata menetes tanpa sadar seolah tak ingin ketenangan dan keteduhanku segera beranjak.
Pembicaraan hangat ku dengan ayah telah selesai. Tidak terasa ternyata pembicaraan kami sudah cukup lama. Adzan subuh telah berkumandang. Ibu dan saudara-saudaraku pun telah menunggu untuk sholat berjama'ah. Aku dan ayah segera mengambil wudhu. Kamipun sholat berjama'ah di ruang tengah.
_Fa
Sabtu, 24 Februari 2018
Kini Hingga Esok
Kemarin kau bahas segalanya tentang senja
Senja yang setia
Senja yang selalu mempesona
Sampai senja yang hanya sementara
Sekarang kau bahas lagi semesta
Semesta dengan pencipta-Nya
Semesta yang selalu berpihak
Bahkan semesta yang telah menolak
Esok kau bahas lagi apa?
Tentang fajar? ah sepertinya sudah tak tenar
Bulan? tak asing lagi untuk bualan
Matahari? sudah banyak katanya dicuri
Saya sampai tak peduli berapa banyak kata yang tuan bagi.
Terpenting semua dari hati.
Bukan karena ikutan gengsi.
Apalagi cuma takut jatuh harga diri.
Saya rasa tuan lebih tau.
Tak peduli pada malu.
Senja yang setia
Senja yang selalu mempesona
Sampai senja yang hanya sementara
Sekarang kau bahas lagi semesta
Semesta dengan pencipta-Nya
Semesta yang selalu berpihak
Bahkan semesta yang telah menolak
Esok kau bahas lagi apa?
Tentang fajar? ah sepertinya sudah tak tenar
Bulan? tak asing lagi untuk bualan
Matahari? sudah banyak katanya dicuri
Saya sampai tak peduli berapa banyak kata yang tuan bagi.
Terpenting semua dari hati.
Bukan karena ikutan gengsi.
Apalagi cuma takut jatuh harga diri.
Saya rasa tuan lebih tau.
Tak peduli pada malu.
Minggu, 31 Desember 2017
Pembangkang Rasa
Dalam kenyamanan yang kau berikan
Aku masih saja dalam penolakan
Bukan seutuhnya hilang harapan
Melainkan sudah jauh ku tempa peradaban
Haluan yang ku tolak
Kini menghabisiku telak
Impianku disana sini
Sudah tak ada lagi
Percuma diperkara
Jika sudah menjadi sengsara
Kesana kemari tiada arti lagi
Sekalipun berpura-pura ingin pergi
Mati rasanya
Rasanya mati
Bak mengukir sebuah luka
Dengan sebilah belati
Aku masih saja dalam penolakan
Bukan seutuhnya hilang harapan
Melainkan sudah jauh ku tempa peradaban
Haluan yang ku tolak
Kini menghabisiku telak
Impianku disana sini
Sudah tak ada lagi
Percuma diperkara
Jika sudah menjadi sengsara
Kesana kemari tiada arti lagi
Sekalipun berpura-pura ingin pergi
Mati rasanya
Rasanya mati
Bak mengukir sebuah luka
Dengan sebilah belati
311217
Selasa, 28 November 2017
Mencari Benar
Diyakininya sesuatu
Tanpa bertanya lebih dulu
Katanya Ini benar yang ditunggu?
Atau hanya sekedar penutup malu?
Tanpa bertanya lebih dulu
Katanya Ini benar yang ditunggu?
Atau hanya sekedar penutup malu?
Pahit selalu ada dalam tiap rasa
Kadarnya saja yang berbeda
Entah bisa dinikmati
Ataukah hilang tanpa diresapi
Kadarnya saja yang berbeda
Entah bisa dinikmati
Ataukah hilang tanpa diresapi
Kau begini, dibilang begitu
Kau begitu, dibilang begini
Biar saja itu hanya bumbu
Nikmati dan resapi dulu
Kau begitu, dibilang begini
Biar saja itu hanya bumbu
Nikmati dan resapi dulu
Sebanyak kau benar
Sedikit kau tenar
Sedikit kau salah
Sebanyak kau dijarah
Sedikit kau tenar
Sedikit kau salah
Sebanyak kau dijarah
Hanguskan saja ragumu
Karna mulut-mulut harimau
Percaya pada apa yang kau yakini
Tak perlu mencari abunya lagi
151117
Karna mulut-mulut harimau
Percaya pada apa yang kau yakini
Tak perlu mencari abunya lagi
151117
Kamis, 17 Agustus 2017
Wanita Bersenandung Duka
Yang aku khawatirkan
Bukan lagi menjadi siapa
Tapi bagaimana aku berarti dimasa tuanya
Dimasa seharusnya penuh kebahagian
Sudah separuhku manusia
Tapi tak jua mengasah ada
Hanya beban-beban mereka
Minta-minta hasil tuanya
Sampai kapan?
Niat penuh tanpa aksi
Senang-senang berpangku tangan
Hanya sisakan bangkai-bangkai janji
Simpan saja sampai bersambut sepi
Berdatangan sesal-sesal
Melihat mereka tanpa alas kaki
Menunggu kedatangan ajal
220717
_Fa
Bukan lagi menjadi siapa
Tapi bagaimana aku berarti dimasa tuanya
Dimasa seharusnya penuh kebahagian
Sudah separuhku manusia
Tapi tak jua mengasah ada
Hanya beban-beban mereka
Minta-minta hasil tuanya
Sampai kapan?
Niat penuh tanpa aksi
Senang-senang berpangku tangan
Hanya sisakan bangkai-bangkai janji
Simpan saja sampai bersambut sepi
Berdatangan sesal-sesal
Melihat mereka tanpa alas kaki
Menunggu kedatangan ajal
220717
_Fa
Kamis, 18 Mei 2017
Rayuan Puan
Sesekali aku mencoba pergi
Dan sesekali pula aku harus kembali
Bukan tanpa sebab aku begini
Hanya berusaha mengikuti kata hati
Terasa manis
Namun harus ku lempar kembali
Pada pikiranku yg menuntut waras
Bukan pada rasa yg semakin menghakimi
Aku mungkin sudah separuh gila
Oleh kata yang tiada makna
Pun bias-bias asa
Yang terbungkus dalam fana
Berlariku terengah
Dalam langkah yang menyurut
Seribuku melawan resah
Berjutaku digelayuti takut
Haruskah ku labuh?
Menghiraukan sebuah rasa
Demi perdulikkan pikiran saja
Yang kini sudah ku anggap tuah
Kembali merayuku pada Tuhan
Pemilik segala jawaban
Padukanlah pikiran
Dengan rasa agar sejalan
_Fa
Dan sesekali pula aku harus kembali
Bukan tanpa sebab aku begini
Hanya berusaha mengikuti kata hati
Terasa manis
Namun harus ku lempar kembali
Pada pikiranku yg menuntut waras
Bukan pada rasa yg semakin menghakimi
Aku mungkin sudah separuh gila
Oleh kata yang tiada makna
Pun bias-bias asa
Yang terbungkus dalam fana
Berlariku terengah
Dalam langkah yang menyurut
Seribuku melawan resah
Berjutaku digelayuti takut
Haruskah ku labuh?
Menghiraukan sebuah rasa
Demi perdulikkan pikiran saja
Yang kini sudah ku anggap tuah
Kembali merayuku pada Tuhan
Pemilik segala jawaban
Padukanlah pikiran
Dengan rasa agar sejalan
_Fa
Langganan:
Postingan (Atom)